Cara Mengatasi Penyiksaan & Pengabaian Anak   Leave a comment

Masalah penyiksaan atau pengabaian terhadap anak haruslah dipandang dan ditangani secara komprehensif. Penyelesaian atau pun penanganan masalah ini bukan hanya tergantung pada psikolog, konselor, atau dokter/terapis, tetapi juga membutuhkan keterlibatan dari orang tua si anak yang bermasalah. Jika tidak dimungkinkan adanya keterlibatan orang tua, biasanya anakanak tersebut dipisahkan sementara waktu untuk tinggal dan diasuh oleh orang lain yang dipandang mampu memberikan perhatian yang memadai.

Memang, di negara-negara berkembang seperti Indonesia kasus-kasus ini belum banyak mendapat perhatian masyarakat sehingga tidak banyak terungkap dan ditangani secara serius. Jika diperhatikan secara seksama, hampir setiap hari ada kasus penganiayaan atau pun pengabaian yang dialami oleh anakanak Indonesia tanpa disadari tidak hanya oleh pelakunya saja, namun bahkan oleh korbannya. Buktinya, di persimpangan jalan, di bawah jembatan, di pinggiran toko, di pasar, banyak ditemukan anakanak itu harus bekerja keras untuk membantu orang tua dengan konsekuensi kehilangan masa bermain dan bersekolah. Mereka juga tidak jarang menjadi korban penganiayaan orang-orang yang tidak suka atau merasa terganggu akan kehadiran mereka yang kusam dan kotor. Banyak pula dari mereka yang kabur dari rumah karena tidak tahan oleh perlakuan keras orang tuanya sehingga memutuskan untuk menjadi anak jalanan.

Oleh karena tidak ada yang mempedulikan nasib dan keadaan anakanak itu, maka dari ke hari kasusnya semakin bertambah dan dampak kerugian baik material maupun psikologis yang ditimbulkan semakin meluas. Padahal, kerugian psikologis yang diderita oleh anakanak tersebut membahayakan perkembangan jiwa dan dalam jangka panjang sama saja dengan membiarkan terjadinya kehancuran mentalitas dan intelektualitas generasi penerus bangsa.

Jadi, jika di antara kita ada kasus penyiksaan atau pun pengabaian, maka tindakan yang dapat diambil adalah memberikan informasi bagaimana menolong diri sendiri, sebagai tindakan pertolongan awal.

Memahami dan menyadari bahwa ia mempunyai orang tua yang mengalami gangguan jiwa dan menyadari pula pengaruh yang bakal dialami sebagai akibatnya

  • Menerima dan mengakui perasaan-perasaan yang timbul, seperti marah, sedih, frustasi, rasa bersalah, malu, dsb. Jangan mengabaikan perasaan tersebut seolah tidak pernah muncul.
  • Memberikan pemahaman, bahwa ia bukan menjadi sumber atau penyebab masalah orang tua
  • Mempelajari cara-cara yang dapat membantu menguatkan diri sendiri
  • Pelajari kebutuhan-kebutuhan yang mendasar, dan berusahalah untuk mengaturnya
  • Pelajari hal-hal yang dapat mendatangkan stress, dan belajar untuk mengatasinya
  • Ubahlah pemikiran dan pemahaman yang negatif tentang diri sendiri dengan hal-hal yang lebih positif
  • Belajar mengembangkan kemampuan interpersonal, dengan terlebih dahulu mengerti kekurangan yang terdapat di dalam keluarga dalam hal interaksi sosial dengan lingkungan
  • Belajar lebih menghargai dan menikmati hubungan yang tercipta dan mengupayakan kestabilan hubungan tersebut dengan cara-cara yang lebih sehat
  • Mencoba mencari jalan keluar dari berbagai sumber lain seperti psikolog, konselor, dokter, atau lembaga yang mengkhususkan diri untuk menangani problem-problem seperti ini. (Sumber: Jacinta F.Rini, e-psikologi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: