Jakarta – Banyaknya kasus bunuh diri di Indonesia membuat Tiwin Herman, Harez Posma Sinaga, dan Posma Simatupang jadi prihatin. Bertiga mereka kemudian membuka sebuah situs bernama “janganbunuhdiri.net”. Situs yang dibuat 20 Januari 2010, berupaya membantu masyarakat yang putus asa supaya tidak bunuh diri.

“Kami ingin menjadi teman bagi mereka yang membutuhkan di kala sulit. Setidaknya kami bisa membantu mereka yang putus asa melihat sisi positif dari kehidupan ini. Jadi mereka tidak merasa putus asa,” jelas Tiwin Herman kepada detikcom.

Konsultasi yang dilakukan janganbunuhdiri.net bisa melalui hotline (jika diri sendiri yang mau bunuh diri), atau bisa melalui chatting. Dengan percakapan-percakapan tersebut, sekalipun melalui online, diharapkan bisa sedikit meringankan beban masalah yang dihadapi orang yang merasa putus asa tersebut.

Tiwin mengatakan, layanan sosial yang dilakukannya itu memang tidak mutlak bisa membatakan niat seseorang untuk bunuh diri. Tapi paling tidak, janganbunuhdiri.net bisa menjadi tempat berbagi atau curhat. Sebab pada dasarnya semua orang pasti mengalami setumpuk masalah yang seolah sangat berat untuk dihadapi.

Ujung-ujungnya orang yang berpikiran untuk mati, dengan bercerita (berbagi) bersama teman, sedikitnya beban persoalan yang dihadapi bisa lebih ringan. Dengan begitu pelan-pelan akan muncul sikap optimisme dalam diri orang tersebut.

Soal peningkatan kasus bunuh diri belakangan ini, menurut Tiwin, disebabkan tantangan dan tuntutan kehidupan yang semakin kompleks. Sementara kepedulian antar sesama cenderung  semakin rendah. Masyarakat saat ini, terutama di perkotaan semakin individual.

Sebagai gambaran, dalam setahun terakhir jumlah orang yang bunuh diri dari gedung tinggi,seperti apartemen atau mal meningkat. Para pelakunya kebanyakan orang yang tinggal di apartemen atau kalangan menengah atas.

Tinggal di apartemen memang bisa dibilang nyaman. Tapi penghuni apartemen sangat jarang berinteraksi dengan masyarakat sekitar atau lingkungannya. Akibatnya, ketika seseorang yang tinggal di apartemen itu mengalami persoalan berat, dia merasa bingung harus mencurahkan hati kepada siapa. Kondisi inilah yang mendorong terjadinya aksi bunuh diri.

Tiwin berkesimpulan cara ampuh untuk menekan angka bunuh diri yakni dengan kasih sayang, perhatian dan cinta (KPC). Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan pengalaman Tiwin dan kawan-kawan ketika menjalankan peran sebagai psikolog dan membantu menjadi teman yang mengalami depresi.

“Merujuk pada pengalaman selama ini, maka bila ditanya bagaimana agar angka bunuh diri ditekan, maka kita tentu kembali kepada kepedulian kita terhadap sekitar,” jelas Tiwin.

Kepedulian itu berbentuk dengan bersedia menjadi teman, bersedia menjadi pendengar yang baik tanpa menghakimi, bersedia memahami orang lain. Bagaimana rumah bisa kembali menjadi tempat yang paling aman dan nyaman buat semua anggota keluarga, bagaimana tetangga bisa menjadi keluarga terdekat yang bisa diminta bantuan dan bagaimana lingkungan bisa kembali guyub bergotong royong bahu membahu mengatasi permasalahan lingkungan membuat setiap orang menjadi tidak sendiri lagi dan merasa ada teman atau orang yang bisa dekat secara emosi.

Anggota Komisi IX DPR Nova Riyanti Yusuf, menilai, adanya layanan konseling  profesional yang banyak mendengar dan sedikit menggurui sangat membantu untuk mengatasi upaya bunuh diri dari seseorang. Sebab, imbuhnya, berdasarkan data statistik 90 persen perilaku bunuh diri lantaran punya masalah psikiatri terutama depresi. Gejala depresi misalnya, punya perasaan tidak semangat, merasa tidak berharga, muncul warning sign ingin mati (baik diungkapkan atau tidak).

“Nah warning sign ini yang sulit dilihat oleh orang-orang di sekitarnya. Untuk itu perlu layanan konseling profesional untuk pencegahan keinginan bunuh diri seseorang,” jelas Nova yang juga seorang psikolog.

Sementara berdasarkan riset kesehatan dasar (riskesdas) 2007 yang dilakukan Kementerian Kesehatan, tingkat prevalensi gangguan jiwa ansietas (kecemasan) dan depresi di Jakarta sebanyak 14,1% atau berada di urutan nomor dua tertinggi setelah Jawa Barat yang presentasenya mencapai 20%.

Di Jakarta sendiri, menurut catatan Polda Metro jumlah kasus bunuh diri mengalami peningatan. Pada tahun 2008 jumlahnya sebanyak 165 orang. Dan pada 2009 meningkat menjadi 176 orang. Untuk 2011, yakni Januari-Februari, sudah dilaporkan sebanyak 10 kasus bunuh diri.

Kenapa di Jakarta mengalami peningkatan? “Jakarta terasa tidak people-friendly karena hidup serba tergesa-gesa. Akibatnya rawan stres,” ujar Nova.

Masalah lainnya, kata Nova, infrastruktur pelayanan kesehatan jiwa tidak terasa mudah diakses terutama untuk konseling dan ventilasi.  Sosialisasi tentang apa itu kesehatan jiwa dan gangguan jiwa ke masyarakat yang masih dirasa kurang. Belum lagi tenaga kesehatan di bidang pelayanan kesehatan dasar untuk mendeteksi, yang masih kurang.

Selain dibutuhkan peran medis, untuk menekan perilaku bunuh diri juga membutuhkan peran agamawan. “Peran agamawan sangat penting karena lewat diskusi agama akan muncul harapan,” ujar Sosiolog Musni Umar.

Untuk itu,kata Musni, selain butuh peran pemerintah, peran tokoh agama sangat diperlukan untuk mengerem terjadinya aksi bunuh diri.  (ddg/iy)  Deden Gunawan – detikNews