Oleh : Dr Muhammad Idrus MPd*
Dosen FIAI UII Yogyakarta dan Tim Ahli pada BSNP Depdiknas Jakarta.

Maraknya peristiwa mengakhiri hidup dengan bunuh diri menjadi sebuah fenomena menarik. Bagi bangsa Indonesia, bunuh diri bukanlah sebuah tradisi budaya turun-temurun sebagaimana yang terjadi di Jepang dengan harakirinya.

Namun, pada kondisi empirik kita temukan justru pada akhir-akhir ini fenomena mengambil jalan pintas bunuh diri menjadi sebuah alternatif yang banyak dipilih tak hanya kalangan orang dewasa, tetapi juga oleh remaja, bahkan anak-anak yang masih bersekolah di tingkat dasar.

Jika disimak, antara kurun waktu 2004-2007, banyak peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh anak usia belasan tahun dan masih bersekolah di sekolah dasar atau di sekolah menengah pertama (SMP). Ironisnya, faktor penyebabnya lebih banyak karena ketidakmampuan anak menahan rasa malu.

Jika ditelusur lebih jauh, dalam pandangan psikologi hal ini terkait dengan rasa frustrasi yang berlebihan, dan ketidakmampuan diri untuk melakukan adaptasi. Pertanyaannya kemudian, mengapa fenomena bunuh diri ini menjadi * ngetren* bagi semua umur dalam upaya menyelesaikan masalah yang dihadapi? Lantas apa yang harus dilakukan oleh para orang tua, kalangan pendidik dan masyarakat pada umumnya?

*Faktor pencetus*

Ada banyak teori tentang bunuh diri. Salah satunya yang kerap menjadi acuan adalah yang diajukan oleh Durkheim, sang sosiolog Prancis. Durkheim (Suicide, 1897) mengelompokkan fenomena bunuh diri menjadi tiga kelompok, yaitu 1) egoistik, 2) altruistik, 3) anomik. *Egoistic suicide* menurut Durkheim terjadi bila individu tidak mampu berintegrasi dengan masyarakat.

Kondisi ini terjadi karena masyarakat memosisikan individu yang bersangkutan seolah-olah tidak berkepribadian.

*Altruistic suicide*

terjadi karena adanya ikatan dan tuntutan yang kuat terhadap individu dari masyarakat sekitar (tradisi/budaya setempat), misal harakiri di Jepang.

*Anomic suicide*

terjadi karena gangguan keseimbangan integrasi antara individu dan masyarakat sehingga individu mengalami krisis identitas, misal kebangkrutan, kehilangan kekuasaan. Teori lain tentang bunuh diri adalah bunuh diri absurditas, bunuh diri eksistensialis,  bunuh diri karena patologis, bunuh diri romantis, dan bunuh diri heroik.

Namun, apa pun teori yang dipakai, para pakar psikologi dan sosiologi tetap  merasa tidak mudah untuk menguak misteri bunuh diri.

Banyak hal yang terkadang tidak dapat dijelaskan dengan konsep teori  semacam itu. Apalagi, jika hal tersebut dikaitkan dengan budaya daerah  tertentu, harakiri di Jepang atau pulung gantung di Gunung Kidul Yogyakarta, atau  juga jika dikaitkan dengan ritual agama, seperti fenomena bunuh diri massal.

Secara psikologis, dipahami bahwa perilaku bunuh diri sebenarnya adalah sebuah kepanikan atau letupan sesaat, sebuah dorongan yang muncul  tiba-tiba. Jarak antara situasi tertekan yang dialami dan peristiwa bunuh diri yang dilakukan dapat berlangsung sekejap, dalam hitungan menit, jam.

Merujuk pada beberapa contoh kasus bunuh diri sebagaimana yang dipaparkan di atas, tampaknya peristiwa bunuh diri pada anak dan remaja sering  berhubungan dengan stresor yang terjadi sesaat. Misalnya, kepanikan karena tidak dapat membayar iuran, rasa malu yang berlebihan.

Ide untuk bunuh diri dapat muncul tiba-tiba (impulsif) tanpa banyak dipikirkan terlebih dahulu. Bagi remaja dan pelajar, situasi ini tambah rumit mengingat masa mereka adalah masa-masa yang penuh gejolak.

Tatkala ditambah lagi dengan persoalan yang menurut mereka sulit dipecahkan, mereka mengalami kebuntuan, tidak ada orang yang dianggap peduli, maka bunuh diri
terkadang menjadi jalan akhir yang ditempuh.

*Mengajar kelenturan pada anak*

Bunuh diri pada remaja menjadi sebuah indikasi adanya ketidakmampuan anak dan remaja dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi. Selain itu, fenomena tersebut juga menunjukkan kurangnya mekanisme *koping* yang dimiliki  remaja dalam mengatasi stres.

Lebih jauh lagi, fenomena bunuh diri remaja dan kalangan pelajar ini secara tidak langsung menjadi bukti dari kegagalan para orang tua, pendidik, dan masyarakat sekitar untuk membekali anaknya dengan keterampilan hidup.  Harus diakui saat ini proses pendidikan kita masih kerap terjebak mengajarkan
anak untuk memiliki kemampuan kognisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan lain.

Pada ujung-ujungnya, kondisi tersebut menyebabkan proses pendidikan  yang berlangsung saat ini lebih berorientasi pada sisi bagaimana menjadikan  anak pintar secara kognitif yang terkadang mengabaikan aspek lainnya. Proses pendidikan saat ini lebih mengutamakan sisi kognitif, bukan untuk mengajarkan bagaimana anak mengenal dirinya, potensinya, atau dalam konteks Jawa diistilahkan dengan ‘*roso*’.

Mengenal dirinya menjadikan anak akan dapat memahami siapa dirinya (*self*), potensi yang dimilikinya, mengenal dekat Tuhannya. Kesadaran itu, pada akhirnya akan menjadi pengingat bagi si anak pada posisi mana dan  dengan siapa dia berhadapan.

Lebih dari itu, hadirnya kesadaran ini diharapkan dapat menjadikan anak mampu beradaptasi dengan lingkungannya, kondisi diri dan keluarga,  serta mampu menerima segala kondisi yang hadir di hadapannya. Sementara itu,  bagi pelaku bunuh diri kemampuan mengadaptasinya tidak ada sehingga begitu mengalami kebuntuan dalam masalah yang dihadapi, seketika yang  terlintas adalah melepaskan diri dari masalah tersebut, bukan menyelesaikannya.

Sejak kecil setiap individu pasti mengalami satu masalah, dari yang  sifatnya sederhana hingga yang kompleks. Pada situasi semacam inilah dibutuhkan kemampuan untuk melakukan adaptasi terhadap situasi. Kebiasaan untuk selalu meluluskan keinginan anak bukanlah perilaku mendidik yang baik. Tidak
semua kebutuhan anak dapat dipenuhi orang tuanya.

Menyadari bahwa banyak keterbatasan individu, maka sudah seharusnyalah sejak dini diterapkan pendidikan yang mengajarkan anak untuk menerima realitas. Pendidikan yang mengajarkan kelenturan hati dan pikiran, serta sikap sehingga anak mampu untuk beradaptasi dengan lingkungannya.

Kemampuan beradaptasi ini setidaknya menjadi sebuah syarat keberhasilan anak dalam kehidupannya. Dengan demikian, dunia bagi anak bukanlah sekadar warna hitam dan putih, tetapi penuh warna. Selalu ada hikmah di balik  peristiwa, *fa inna ma’al usri usro, inna ma’al usri yusro*, setelah kesusahan pasti  ada sebuah kenikmatan/kebahagian.

Sumber: http://kapasmerah.wordpress.com/2008/03/28/fenomena-bunuh-diri-pelajar/