Jakarta – Rencana Surya Pranata Sidauruk untuk merayakan Valentine tidak kesampaian. Tiga hari menjelang Hari Kasih Sayang itu, anggota polisi itu bunuh diri dengan menembakkan pistol di pelipisnya. Pria berusia 25 tahun itu tidak sanggup lagi hidup setelah asmaranya dengan sang kekasih, Dewi, kandas.

Aksi yang dilakukan Surya menambah daftar catatan kasus bunuh diri yang terjadi di Indonesia, khususnya di Jakarta pada 2011. Bukan tidak mungkin pada tahun ini aksi bunuh diri bakal meningkat dari sebelumnya. Dari catatan Divisi Humas Polda Metro Jaya dari tahun ke tahun kasus bunuh diri di wilayah Polda Metro Jaya terus meningkat. Misalnya, pada tahun 2009 kejadian bunuh diri mencapai 165 kasus. Sementara 2010, angka bunuh diri meningkat jadi 176 kasus.

Bila melihat data-data yang ada, hampir 2 hari sekali terjadi kasus bunuh diri. “Modus bunuh diri yang dilakukan dengan berbagai cara,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Baharrudin saat dikonfirmasi.

“Mengapa orang ingin melakukan bunuh diri ? Dalam kalimat yang pendek saya rangkum dalam kalimat karena tantangan dan tuntutan kehidupan yang semakin kompleks, sementara kepedulian (kepada sesama dan lingkungan) yang semakin rendah,” kata  psikolog Tiwin Herman.

Menurut Tiwin, bunuh diri pada dasarnya bisa dibagi dalam 2 katagori. Pertama committed suicide yakni ada tekad untuk bunuh diri yang dilandasi karena adanya suatu keyakinan tertentu.  Misalnya didasari keyakinan agama seperti melakukan bom bunuh diri, atau bunuh diri berjamaah oleh anggota sekte. Dilandasi patriotisme seperti meledakkan diri diantara musuh. Didasari potres atau perlawanan sosial seperti membakar diri dan didasari keyakinan budaya seperti melakukan Harakiri (kehormatan).

Kategori bunuh diri kedua adalah Cry For Help’ yakni tekad membunuh diri karena disebabkan merasa sendiri (dan putus asa) dalam menghadapi permasalahan kehidupan sehingga tidak bisa lagi melihat sisi sisi positif dari suatu kehidupan. Contohnya bunuh diri karena perselingkuhan, bunuh diri karena putus cinta seperti dalam kasus yang dialami Surya. Lalu karena putus asa dengan penyakitnya yang tidak kunjung sembuh, karena dikucilkan, karena kemiskinan ataupun karena depresi yang merupakan mayoritas penyebab bunuh diri.

Pelaku bunuh diri bisa siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tidak ada profil yang khas baik dari sisi usia, pendidikan, warna kulit, jenis kelamin maupun strata sosial. Tetapi ada yang khas dari pelaku pada umumnya, yaitu adalnya perubahan pada perilakunya (yang disebabkan karena depresi).

Adapun indikasinya adalah terjadi perubahan perilaku yakni menarik diri dan sering membicarakan masalah kematian. Misalnya dengan bilang “kalau begini aku mati saja”. “Aku mau bunuh diri”. “Buat apa aku hidup”. “Aku nggak mau hidup lebih lama lagi” dan sebagainya.

Indikasi lainnya yakni adanya perubahan emosi yakni bercerita tentang perasaannya yang sepi, tidak bisa menolong diri sendiri, ataupun merasa tidak berharga. Kemudian juga kehilangan hasrat dengan hal-hal yang biasa dilakukannya. Lalu mengalami depresi (kesedihan mendalam, hilangnya keinginan melakukan sesuatu, gangguan tidur dan makan) yang semakin buruk.

“Ada perubahan yang tiba-tiba, tidak terduga, dari perasaan sangat sedih menjadi tenang atau tiba-tiba sangat gembira. Tanda atau gejala inilah yang semestinya kita perhatikan agar orang tidak jadi bunuh diri,” jelas Tiwin yang menggagas situs Jangan bunuhdiri.net tersebut.

Sementara psikolog Sarlito Wirawan berpendapat orang melakukan bunuh diri karena dia kehilangan makna hidupnya. Orang kehilangan makna hidup bisa karena sakit jiwa atau karena masalah yang tidak bisa diatasinya. Masalah itu bisa karena rasa bersalah, misalnya tidak bisa membayar utang, anak-isterinya terlantar, rasa malu atau memalukan nama keluarga, kehilangan harga diri dan lain lainnya, atau karena suatu idealisme yang tidak tercapai, seperti gagal cinta, atau karena idealisme itu bisa diperolah di alam baka sana. Ini seperti dalam kasus bom bunuh diri di mana mengharapkan imbalannya di surga.

Orang Kaya

Belakangan modus bunuh diri dengan melompat dari ketinggian, seperti gedung bertingkat, cenderung meningkat. Untuk modus seperti ini, diakuinya, cukup menyita perhatian Polda Metro Jaya. Berdasarkan data Humas Polda Metro Jaya,  pada periode 2010, kasus bunuh diri dengan cara terjun dari ketinggian, menjadi urutan tertinggi kedua setelah gantung diri, dengan jumlah 7 kasus. Sementara angka gantung diri tercatat 83 kasus, Minum racun 3 kasus, potong nadi 5 kasus, bakar diri 1 kasus, tembak diri 1 kasus, cebur diri 2 kasus. Selebihnya dengan cara-cara lain.

Meningkatnya kasus bunuh diri dari gedung tinggi menurut  psikolog dari Universitas Indonesia, Liza Malrielly Djaprie sebagai sebuah petanda kalau bunuh diri bukan hanya dilakukan orang miskin. Sebab gedung-gedung tinggi itu lokasi yang sering dikunjungi kalangan menengah ke atas, seperti mal atau aparteman.

“Kalau orang miskin atau kurang mampu yang ingin bunuh diri dengan cara melompat dari ketinggian umumnya memilih  menara PLN atau BTS. Karena mereka tidak terbiasa masuk ke hotel, apartemen atau ke mal-mal,” begitu kata Liza kepada detikcom.

Ditambahkan Liza, adanya peningkatan jumlah orang kaya yang bunuh diri di Indonesia menunjukan depresi atau stres tidak hanya dimiliki oleh orang-orang miskin. Sebab tingkat stres justru banyak terjadi di lingkungan masyarakat yang tingkat ekonominya tinggi.

Fenomena bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang kaya itu bisa dilihat dari maraknya upaya bunuh diri yang dilakukan di mal, apartemen, maupun hotel. Lokasi-lokasi tersebut, terang Liza, merupakan tempat yang biasa dikunjungi orang-orang kaya. Jadi ada keterkaitan antara lokasi bunuh diri dan latar belakang orang yang bunuh diri.

Sementara Sosiolog lulusan Universitas Kebangsaan, Malaysia, Musni Umar mengatakan, pola hidup masyarakat kota, khususnya Jakarta, yang semakin individualis menjadi salah satu faktor mengapa banyak kalangan menengah ke atas yang bunuh diri.

Menurut Musni, mereka yang bunuh diri kebanyakan orang yang menyendiri sehingga tidak berintegrasi dengan lingkunannya. Ketika orang tersebut menghadapi masalah, tidak ada teman, kerabat, atau tetangga tempat berkeluh kesah.

“Dalam kondisi ini, orang yang tidak berintegrasi dengan lingkungannya tersebut merasa dirinya tidak ada harapan lagi. Sehingga memilih bunuh diri,” terang Musni kepada detikcom. Adapun faktor yang mendesak seseorang bunuh diri, lanjutnya, yang paling banyak biasanya disebabkan faktor ekonomi. Apalagi saat ini biaya hidup semakin tinggi sementara penghasilan tidak berubah.

Di tengah kegalauan itu, mereka sangat membutuhkan orang lain. Paling tidak mereka merasa punya sedikit harapan dan tidak merasa seolah dunia ini telah berakhir baginya. Untuk itu dibutuhkan peran serta masyarakat, tokoh agama, maupun pemerintah.

“Pemerintah dan tokoh agama fungsinya sangat penting untuk menumbuhkan harapan. Sehingga masyarakat yang mengalami masalah bisa terhindar dari keinginan untuk bunuh diri,”pungkasnya.

(ddg/iy) Deden Gunawan,Iin Yumiyanti – detikNews