Bunuh Diri Itu Menular   Leave a comment

Dalam tiga pekan ini, paling tidak lima nyawa melayang setelah terjun dari ketinggian gedung bertingkat di Jakarta. Diduga mereka meloncat karena sengaja bunuh diri (Kompas, 16/12/2009). Sebelumnya di Surabaya juga terjadi hal yang sama. Kerap kejadian seperti ini terjadi secara beruntun. Kebetulan atau memang menjalar?

Sekitar akhir abad kedelapan belas, Goethe, seorang penulis kesohor, bertutur dalam novelnya, The Sorrows of Young Werther. Dikisahkan, sang tokoh protagonis, Werther, sengaja mengakhiri hidup karena cintanya kepada tokoh utama perempuan gagal. Dalam waktu singkat setelah novel tersebut beredar, tindakan Werther ditiru oleh banyak pembacanya dengan memakai pakaian dan cara mati yamg serupa dengan yang dilakukan Werther, sementara buku novel tersebut berada di sampingnya. Dramatis!

Banyak bukti memperjelas bahwa mereka terinspirasi oleh kisah sang tokoh dalam novel tersebut. Kejadian yang sempat menggemparkan bumi Eropa saat itu sehingga novel tersebut lantas dilarang beredar. Dari situlah muncul istilah The Werther effect, atau bunuh diri yang menjalar cepat bak penyakit menular (contagious). Mereka mengimitasi apa yang dibaca, dilihat, atau didengar, terutama bagi individu yang rentan.

Media dan perilaku meniru

Kendati peniruan bunuh diri (copycat suicide) lebih tepat dipakai untuk mengistilahkan bunuh diri yang menjalar di antara kelompok teman, namun tak terlalu berbeda dengan perilaku bunuh diri yang ditularkan lewat berbagai bentuk media. Umumnya lantaran paparan yang begitu menonjol, kejadiannya dramatis, sensasional, dan disiarkan terus-menerus oleh media.

Begitu banyak bukti bahwa media mempunyai andil besar terhadap perilaku bunuh diri (Fu & Yip, 2007). Umumnya remaja dan dewasa muda yang mempunyai faktor risikolah yang banyak mengimitasi perilaku bunuh diri dengan memungut metode yang sama. Kebetulan cara melompat dari gedung tinggi menjadi semacam tren akhir-akhir ini, baik di pusat perbelanjaan, gedung apartemen jangkung yang mulai menjamur, menara tinggi, maupun sejenisnya.

Masuk akal, apalagi di kota besar, terutama Jakarta, yang tengah berlomba membangun gedung-gedung tinggi, cara mengakhiri hidup semacam itu akan menjadi masalah, sebagaimana Hongkong yang saat ini sudah mulai berpikir untuk mengembangkan sistem pengamanan lewat arsitektur bangunan yang tak mengundang orang untuk mengakhiri penderitaan mereka di tempat tersebut. Hal itu termasuk bagaimana mengamankan jembatan-jembatan yang menjadi ikon kota.

Mungkinkah pengelola gedung (termasuk yang memberikan izin mendirikan gedung) di Indonesia mulai berpikir dan bertindak seperti itu? Hal ini tak boleh dianggap sepele bila tak ingin melihat korban berjatuhan kembali. Semua komponen masyarakat ikut bertanggung jawab. termasuk media massa, terutama dalam pemberitaan yang berpotensi ditiru masyarakat. Misalnya mengenai peristiwa bunuh diri, seyogianya media memberitakan secara lebih bertanggung jawab, akurat, dan lebih sensitif memegang etika reportase. Diharapkan, media menghindari cara pemberitaan yang sensasional, terlalu didramatisasi, menghindari pelaporan secara detail, apalagi lokasi tempat dan cara kematian secara eksplisit.

Hal penting lain, tidak melakukan penyederhanaan penyebab masalah karena bisa menafikan kausa kompleks bunuh diri yang sebenarnya lebih penting. Kerap berbagai reportase menyebutkan penyebab bunuh diri karena faktor tunggal, misalnya karena impitan ekonomi atau masalah dengan pasangan. Akibatnya, kelompok orang yang sedang mengalami ”nasib” buruk serupa dan sudah terlintas ide untuk mati, seakan diberikan justifikasi untuk melakukan hal sama. Lebih-lebih bila ada ”model” yang bisa ditiru, atau celebrity suicide, seperti yang terjadi di berbagai penjuru dunia.

Saat ini di beberapa negara sedang gencar terjalin kerja sama antara media massa dan institusi terkait untuk membuat semacam media guidelines dalam pemberitaan bunuh diri. Ini membawa hasil yang menggembirakan, terutama menghindari terjadinya copycat.

Kesehatan mental

Tindakan bunuh diri bukanlah sesederhana yang sering dibicarakan selama ini. Begitu berliku lorong suram yang memberi gurat cerita nestapa tersebut. Sebuah interaksi rumit yang terjalin antara faktor biologik, genetik, psikologik, sosiobudaya, ekonomi, masalah interpersonal, kepribadian, dan masalah psikiatrik. Bukan karena faktor tunggal. Perilaku bunuh diri ini menunjukkan salah satu indikator tingkat kesehatan mental yang buruk di masyarakat.

Sembilan puluh persen perilaku bunuh diri memang berkaitan erat dengan masalah kesehatan mental dan kedaruratan medik. Ketika faktor mendasar tak diatasi, tak ayal jumlah kasus bunuh diri akan terus melambung karena faktor pemicunya kian menyeruak, membuat kehidupan seakan tersedak.

Media diharapkan lebih terlibat dan memberikan informasi akan tersedianya sarana bantuan bagi orang-orang yang sedang kalah ini. Sudah saatnya pula masyarakat mulai bergerak menyediakan sarana bantuan bagi sekelompok orang yang seakan terperangkap dalam labirin suram. Jangan biarkan mereka merasa tak ada harapan. Kita bisa mengulurkan tangan untuk sekadar menampung kegundahan mereka, bukan menyalahkan, tetapi memberikan dukungan.

Sebagian besar dari mereka terbukti mengurungkan niat bunuh dirinya ketika ada akses seseorang yang empatik, mau memahami, mendengarkan, dan memberikan dukungan yang bisa mengenyahkan noktah keputusasaan. Bahwa penderitaan tak layak diselesaikan lewat jalan pintas.

Patut diingat, yang meninggal hanyalah sebagian kecil dari perilaku bunuh diri yang diberitakan. Yang baru berniat atau tidak fatal tentu jauh berlipat kali jumlahnya. Inilah fenomena gunung es taraf kesehatan mental yang memburuk. Seakan menjadi silent killer yang tak terendus sehingga kita alpa mengantisipasi.

Lembaga nirlaba semacam Samaritans atau Papyrus yang sudah berdiri di berbagai belahan dunia mungkin bisa dipungut sebagai bahan inspirasi dengan beberapa modifikasi lokal. Lembaga yang bisa menjadi sumber informasi lengkap dan memberikan udara segar bagi orang-orang yang membutuhkan tempat bersandar. Memberikan secercah lentera bagi orang-orang yang sedang melihat penderitaan tanpa harapan. Bahwa ada hikmah di balik musibah, seperti digambarkan Pincus (1972) dengan indahnya:

There is no growth without pain and conflict/ There is no loss which cannot lead to gain….

Nalini Muhdi Psikiater, Anggota The International Association for Suicide Prevention; Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia

Sumber : http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/19/03505480/bunuh.diri.itu.menular

 

Posted May 20, 2012 by klinikpsikis in motivasi

Bunuh Diri pada Mahasiswa ternyata Lebih Umum   Leave a comment

Kasus bunuh diri sering menghiasi media masa kita. Bunuh diri atau percobaan bunuh diri karena himpitan faktor sosio-ekonomi menjadi berita yang sering kita dengar atau lihat. Namun, bagaimanakah prevalensi bunuh diri di negara lain, terutama di negara maju? Mari kita bandingkan dengan survei mengenai bunuh diri di Amerika Serikat.

ScienceDaily (Ag. 19, 2008). Lebih dari setengah populasi mahasiswa berjumlah 26.000 dari 70 perguruan tinggi Amerika Serikat yang menyelesaikan survei mengenai pengalaman bunuh diri, telah melaporkan bahwa mereka pernah memikirkan untuk bunuh diri, paling tidak sekali dalam hidup mereka. Lebih jauh, 15 persen dari mahasiswa yang disurvei telah memikirkan secara serius untuk bunuh diri, dan lebih dari 5 persen pernah melakukan percobaan bunuh diri paling tidak sekali dalam hidup mereka.

Dalam sebuah presentasi pada Konvensi tahunan asosiasi psikologi amerika ke 116, psikologis David J Drum dan asisten autor dari Universitas Texas di Austin melaporkan penemuan mereka, yang diambil dari survei berbasis web yang dilakukan oleh konsorsium riset nasional bimbingan penyuluhan pada perguruan tinggi. Survei tersebut dilakukan pada musim semi tahun 2006 dan telah berhasil dikumpulkan berbagai pemikiran dan tingkah laku yang berkaitan dengan bunuh diri diantara mahasiswa. Survei tersebut direview oleh direktur bimbingan penyuluhan kampus yang berpartisipasi, juga oleh dua orang pakar psikologi bunuh diri.

Enam persen dari mahasiswa S1 dan 4 persen dari mahasiswa S2 dilaporkan secara serius mempertimbangkan bunuh diri dalam rentang waktu 12 bulan sebelum menjawab survei. Oleh karena itu, para peneliti menemukan, bahwa pada perguruan tinggi dengan rata-rata mahasiswa S1 berjumlah 18.000, sebanyak 1.080 mahasiswa akan secara serius memikirkan untuk bunuh diri paling tidak sekali dalam setahun. Sekitar dua pertiga dari mereka yang memikirkan untuk bunuh diri akan melakukannya lebih dari sekali dalam periode 12 bulan.

Mayoritas mahasiswa menjelaskan episode tipikal pemikiran bunuh diri sebagai sesuatu yang intens dan singkat, dengan lebih dari setengah episode tersebut hanya berlangsung sehari atau lebih sebentar. Peneliti menemukan, bahwa untuk berbagai alasan, lebih dari setengah mahasiswa yang mengalami krisis bunuh diri tidak mencari pertolongan profesional atau memberitahu siapapun mengenai pemikiran mereka.

Alasan

Peneliti menggunakan sampel terpisah dari mahasiswa S1 dan S2. Ukuran perguruan tinggi terentang dari 820 sampai 58.156 mahasiswa, dengan rata-rata 17.752. Bagi 15.010 mahasiswa S1, 62 adalah perempuan dan 38 persen adalah pria. 79 persen adalah kulit putih, dan 21 persen non kulit putih. 95 persen mengidentifikasi diri mereka sebagai heteroseksual dan 5 persen adalah biseksual, gay, atau tidak memutuskan sama sekali. Umur rata-rata adalah 22. Bagi 11.441 mahasiswa S2, 60 persen adalah perempuan dan 40 persen adalah pria. 72 persen adalah kulit putih dan 28 persen adalah non kulit putih. 94 perseb adalah heteroseksual dan 6 persen adalah biseksual, gay, atau tidak memutuskan sama sekali. Umur rata-rata adalah 30.

Baik mahasiswa S1 dan S2 memberikan alasan berikut sebagai landasan pemikiran bunuh diri mereka, dalam urutan:
(1) Menginginkan untuk menghilangkan sakit secara fisis dan emosional
(2) Masalah dengan hubungan cinta
(3) Hasrat untuk mengakhiri hidup mereka
(4) Masalah dengan sekolah atau akademis

Sebanyakl 14 persen dari mahasiswa S1 dan 8 persen dari mahasiswa S2 yang secara serius mempertimbangkan untuk bunuh diri dalam 12 bulan sebelumnya, akhirnya melakukan upaya bunuh diri. 19 persen dari mahasiswa S1 dan 28 persen dari mahasiswa S2 yang mencoba bunuh dri memerlukan pertolongan medis. Setengah dari yang mencoba meminum obat dalam dosis berlebih sebagai metode mereka, demikian kata pengarang.

Depresi

Dari survei tersebut, pengarang menemukan bahwa pemikiran bunuh diri sering terjadi karena depresi, masalah makan, atau pelecehan. Mereka juga menemukan bahwa bergantung secara penuh pada model perawatan yang ada, dimana mengidentifikasi dan menolong mahasiswa yang sedang dalam krisis, ternyata tidak cukup untuk mengatasi perilaku bunuh diri pada mahasiswa.
Pengarang menganjurkan beberapa model untuk mengatasi masalah tendensi bunuh diri pada mahasiswa.

Dengan berfokus pada pemikiran bunuh diri dan perilaku sebagai masalah, daripada memperhatikan hanya mahasiswa yang berada dalam krisis, intervensi dapat diberikan pada banyak titik, demikian kata mereka. Lebih jauh, informasi dari survei dapat menolong untuk mencocokkan mahasiswa yang sedang dalam risiko atau yang telah memngalami pemikiran bunuh diri dan perilaku terkait dengan perawatan yang cocok. Hal ini akan mengurangi kemungkinan mereka mengubah pemikiran tersebut kepada tindakan percobaan, demikian kata mereka.

Dengan meningkatnya stres pada mahasiswa dan berkurangnya sumber daya untuk mengatasi konsekuensi tersebut, pencegahan bunuh diri memerlukan berbagai seksi dari personel kampus-adiminstrator, pemimpin mahasiswa, penasihat, dosen, mahasiswa, dan konselor-tidak hanya melibatkan mahasiswa tersebut dan beberapa psikolog saja. ‘Ini akan mengurangi presentasi dari mahasiswa yang terlibat pada pemikiran bunuh diri, atau yang akan melakukan tindakan untuk itu’, demikian kata Drum.

Diterjemahkan dari: American Psychological Association (2008, August 19). Suicidal Thoughts Among College Students More Common Than Expected. ScienceDaily. Retrieved October 18, 2008, from http://www.sciencedaily.com/releases/2008/08/080817223436.htm

foto:testriffic.com/

Sumber : http://netsains.com/2009/01/bunuh-diri-pada-mahasiswa-ternyata-lebih-umum/

Posted May 20, 2012 by klinikpsikis in motivasi

Inilah Cara Mencegah Bunuh Diri, Gejala Suicide   Leave a comment

Anak yang berusaha bunuh diri memerlukan evaluasi segera di bagian gawat darurat rumah sakit. Setiap jenis usaha bunuh diri harus dilakukan dengan serius, karena sepertiga dari mereka yang benar-benar bunuh diri mengalami usaha bunuh diri sebelumnya-kadangkala tampak sepele, seperti melakukan beberapa garukan dangkal pada pergelangan tangan atau menelan beberapa pil. Ketika orangtua atau pengurus anak meremehkan atau meminimalkan usaha bunuh diri yang tidak berhasil, anak bisa melihat ini sebagai sebuah tantangan, dan resiko pada bunuh diri berikutnya meningkat.

Orangtua, dokter, guru dan teman kemungkinan pada posisi untuk mengidentifikasi siapa yang mungkin berusaha bunuh diri, terutama pada mereka yang telah melakukan perubahan baru-baru ini dalam perilaku. Anak-anak dan remaja seringkali mempercayai hanya teman sebaya mereka, yang harus diyakinkan untuk tidak menjaga rahasia yang bisa membuat kematian tragis pada anak yang bunuh diri.
Anak yang terlalu cepat berpikir bunuh diri seperti ‘saya harap saya tidak pernah dilahirkan’ atau ‘saya ingin tidur dan tidak pernah terbangun’ beresiko, tetapi sehingga anak dengan tanda-tanda ringan, seperti menarik diri dari masyarakat, tinggal kelas, atau terpisah dari barang milik favorite.
Pemerhati kesehatan professional memiliki dua kunci peranan : mengevaluasi keselamatan anak bunuh diri dan perlu untuk di opname, dan pengobatan berdasarkan kondisi, seperti depresi atau penyalahgunaan zat-zat terlarang.

Secara langsung menanyakan anak beresiko mengenai pemikiran dan rencana mengurangi, daripada meningkatkan, resiko dimana anak tersebut akan berusaha bunuh diri karena mengidentifikasi pikiran bunuh diri bisa menyebabkan intervensi. Hot line krisis, menyediakan bantuan selama 24 jam, tersedia di banyak perkumpulan, dan menyediakan akses yang siap untuk seorang simpatik yang bisa memberikan konseling segera dan bantuan dalam memperoleh perawatan lebih lanjut. Meskipun hal ini sulit untuk dibuktikan bahwa pelayanan ini secara nyata mengurangi jumlah kematian dari bunuh diri, mereka sangat membantu dalam mengarahkan anak dan keluarga untuk sumber daya yang tepat.

Ketika ancaman dengan segera terhadap nyawa telah dihilangkan, dokter memutuskan apakah anak tersebut harus diopname. Keputusan tersebut tergantung pada tingkat resiko tetap tinggal dirumah dan kapasitas keluarga untuk memberikan dukungan dan keamanan fisik untuk anak tersebut.

Kesungguhan usaha bunuh diri bisa diukur dengan jumlah faktor-faktor, termasuk apakah upaya tersebut telah direncanakan dengan hati-hati daripada secara spontan, apakah langkah yang diambil untuk mencegah penemuan, jenis metode yang digunakan, dan apakah setiap luka telah benar-benar timbul. Hal ini kritis untuk sungguh-sungguh dibedakan dari konsekwensi actual.

Misal, remaja yang mencerna pil yang tidak berbahaya yang dia (perempuan) atau dia (laki-laki) yakini mematikan harus dipertimbangkan pada resiko yang ekstrim. Jika opname tidak diperlukan, keluarga dari anak-anak pulang kerumah harus memastikan bahwa senjata api dibuang dari rumah sama sekali dan bahwa onat-obatan dan benda tajam dibuang atau benar-benar dikunci.

Sumber : http://www.forumkami.com/forum/cafe/28715-cara-mencegah-bunuh-diri-gejala-suicide.html

Posted May 20, 2012 by klinikpsikis in kasus psikis

Bila Akhiri Hidup Dianggap Solusi   Leave a comment

Robert Firestone dalam buku “Suicide and the Inner Voice” menulis bahwa mereka yang mempunyai kecenderungan kuat untuk bunuh diri, banyak yang lingkungan terkecilnya tidak memberi rasa aman, lingkungan keluarga yang menolak, tidak hangat, sehingga anak yang dibesarkan di dalamnya merasakan kebingungan dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.

KALAU kita cermati, tiga tahun terakhir ada hal yang cukup membuat giris, menyangkut jumlah orang (bahkan anak!) yang melakukan tindakan mengakhiri hidup. Ketika mencari data dari pemberitaan sebuah koran selama 2005, ada 70 berita tentang bunuh diri di Indonesia, dengan 73 korban. Isinya beragam. Ada polisi mencabut nyawanya sendiri pascamenembak temannya, ada yang terjun bebas dari ketinggian, pertengahan bulan lalu malah Awang Aditya (10), siswa kelas IV SD, menggantung diri lantaran seragam pramuka yang akan dipakainya ke sekolah masih basah! Yang cukup menggemparkan ketika medio Mei, seorang anak TK, 5 tahun 8 bulan, kedapatan tewas menggantung diri sehabis dimarahi.

Itu baru dari satu koran. Sebuah laporan menyebutkan di Indonesia ada 112 kasus bunuh diri pada tahun 2003 dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pada tahun yang sama ada satu juta orang melakukan bunuh diri, atau 1 orang setiap 40 detik. Bunuh diri juga merupakan salah satu penyebab utama kematian pada usia 14-34 tahun, di luar kecelakaan.

Alasan Bunuh Diri

Para pelaku bunuh diri, seperti juga banyak dari kita bila berada dalam suatu “situasi sulit”, pasti menganggap bahwa dengan meninggalkan dunia, mereka akan lepas dari beban yang ada. Anggapan itu normal saja, jika memang hanya muncul sekilas. Artinya masih dalam intensitas ringan dan kemudian setelah sempat berpikir lebih panjang, lalu ditemukan alternatif yang lebih dapat diterima norma.

Bagaimanapun, untuk berkembang kita pasti melalui saat-saat sulit dan banyak rasa tidak menyenangkan. Dalam intensitas berat dan tidak ada jalan lain, hal semacam itu akan menimbulkan depresi. Depresi tidak selalu menimbulkan hasrat bunuh diri, tetapi kecenderungan bunuh diri selalu didahului perasaan depresi, rasa tersendiri (isolasi), rasa tak berdaya dengan intensitas tinggi dan perasaan tidak mampu menjalani hidup. Intervensi terhadap hasrat bunuh diri selalu mengeksplorasi hal-hal itu.

Dilihat dari sejarah bunuh diri, depresi hanyalah salah satu sebab saja. Masih ada sebab-sebab lain, yaitu keyakinan agama (bom bunuh diri); patriotisme (meledakkan diri di antara musuh); keyakinan budaya dan kehormatan (harakiri), medik (putus-asa karena penyakit), genetik (kakek-paman-putri dan Hemingway sendiri melakukannya), protes dan perlawanan sosial (bakar diri melawan rezim yang berkuasa) dan ritual pembebasan (bunuh diri ramai-ramai oleh anggota sekte suatu agama) .

Sering alasan itu sangat subjektif dan sulit dimengerti akal sehat. Sebetulnya kalau para pelaku itu mencari orang lain untuk diajak membicarakan persoalannya (sehingga tidak ada rasa lonely, tersendiri), pasti keinginannya untuk memilih mati tidak akan ada. Toh, kalau kita baca catatan mereka yang selamat dari zaman Pol Pot di Kamboja dulu atau dari kamp Auswitz, atau ketika bom atom pertama jatuh di Hiroshima-Nagasaki – ketika para korban dengan kulit tersayat terpanggang panas yang meruyak – mereka tetap memilih untuk hidup di saat penderitaan seakan mencapai puncak. Atau karena saat itu di udara sedang beredar aroma perang melawan musuh, sehingga “rasa patriotisme” mendukung keinginan untuk tetap hidup dengan tegar ?

Kalau mengikuti alur pikiran ini, berarti mereka yang memilih bunuh diri daripada dengan tegar menghadapi kondisi yang menimpanya adalah mereka yang tidak mempunyai “rasa patriotisme” (terhadap diri sendiri !) dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, dan lebih memilih “menyakiti diri” daripada menghadapinya.

Dua Faktor

Untuk mengerti mengapa orang melakukan bunuh diri minimal ada dua faktor yang harus dilihat. Pertama, faktor predisposisi, yang memberi kecenderungan atau menjadi sebab, dan kedua, faktor pemicu (trigger), yang menyebabkan situasi ingin bunuh diri tersebut jadi terlaksana. Robert Firestone dalam buku Suicide and the Inner Voice (1997) menulis bahwa mereka yang mempunyai kecenderungan kuat untuk bunuh diri banyak yang lingkungan terkecilnya tidak memberi rasa aman, lingkungan keluarga yang menolak, tidak hangat, sehingga anak yang dibesarkan di dalamnya merasakan kebingungan dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Itulah faktor predisposisi, yang kalau diterapkan ke dalam situasi saat ini, faktor ini bisa berupa kondisi ekonomi yang memburuk (buat beberapa orang malah sangat menghimpit) atau kondisi hubungan antarmanusia yang hanya berlandaskan hal-hal formal saja. Dalam situasi seperti ini pun, kata Kristi Purwandari dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, dapat membuat mereka yang dibesarkan dalam keluarga normal dan baik-baik dapat menjadi kehilangan orientasi ke masa depannya.

Orang akan jadi melakukan tindakan bunuh diri kalau faktor kedua, trigger-nya, memungkinkan. Tidak mungkin ada tindakan bunuh diri yang muncul tiba-tiba, tanpa ada faktor predisposisi sama sekali. Akumulasi persoalan fase sebelumnya akan terpicu oleh suatu peristiwa tertentu.

Misalnya, ketika Awang menemukan seragam pramukanya masih basah, padahal sudah harus dipakai (pembuka artikel ini).

Atau ketika si anak TK dimarahi. Situasi yang kelihatan sepele ini langsung menggerakkan tindakan mengakhiri hidup, yang pada waktu-waktu sebelumnya sudah mereka anggap sebagai jalan pembebasan dari hal yang menimpa dan membebani.

Suatu cerita lucu pernah ada saat seseorang yang akan bunuh diri dengan insektisida, uangnya lebih ketika membeli racun serangga itu. Pemilik warung menawarkan kue karena tidak ada kembalian. Dia menerimanya dan memakannya. Tak mau rugi, bahkan pada saat-saat terakhir hidupnya?

Yang dapat kita tangkap dari peristiwa itu adalah bahwa sebenarnya kalau ada intervensi pada saat itu, tindakan bunuh diri tidak akan jadi dilakukan. Dan memang itulah yang dilakukan para konsultan jika menghadapi orang yang berniat bunuh diri. Ada yang mengatakan bahwa tidaklah mengkhawatirkan kalau sempat ada ancaman,”Saya mau bunuh diri, nih !” – karena itu berarti yang bersangkutan sedang menimbang-nimbang untuk melakukannya. Orang semacam itu sebetulnya sedang meminta kepada yang diajak bicara supaya diberi perhatian atau didengarkan keluhannya.

Memang, minimal keinginan untuk didengarkan dan untuk mendapat perhatian, itulah yang mereka butuhkan. Kalau itu yang terjadi, maka mereka merasa bahwa ada penerimaan diri oleh pihak lain dan di saat itu si calon pelaku bunuh diri dapat diberi pandangan lain mengenai permasalahan yang dihadapinya. Pandangan lain semacam ini biasanya dapat menyebabkan mereka berubah pandangan dan tidak lagi menganggap bahwa mengakhiri hidup adalah satu-satunya solusi bagi persoalannya.

Widyarto Adi Ps, Psikolog, Trainer

Posted May 20, 2012 by klinikpsikis in motivasi

Fenomena Bunuh Diri Pelajar   Leave a comment

Oleh : Dr Muhammad Idrus MPd*
Dosen FIAI UII Yogyakarta dan Tim Ahli pada BSNP Depdiknas Jakarta.

Maraknya peristiwa mengakhiri hidup dengan bunuh diri menjadi sebuah fenomena menarik. Bagi bangsa Indonesia, bunuh diri bukanlah sebuah tradisi budaya turun-temurun sebagaimana yang terjadi di Jepang dengan harakirinya.

Namun, pada kondisi empirik kita temukan justru pada akhir-akhir ini fenomena mengambil jalan pintas bunuh diri menjadi sebuah alternatif yang banyak dipilih tak hanya kalangan orang dewasa, tetapi juga oleh remaja, bahkan anak-anak yang masih bersekolah di tingkat dasar.

Jika disimak, antara kurun waktu 2004-2007, banyak peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh anak usia belasan tahun dan masih bersekolah di sekolah dasar atau di sekolah menengah pertama (SMP). Ironisnya, faktor penyebabnya lebih banyak karena ketidakmampuan anak menahan rasa malu.

Jika ditelusur lebih jauh, dalam pandangan psikologi hal ini terkait dengan rasa frustrasi yang berlebihan, dan ketidakmampuan diri untuk melakukan adaptasi. Pertanyaannya kemudian, mengapa fenomena bunuh diri ini menjadi * ngetren* bagi semua umur dalam upaya menyelesaikan masalah yang dihadapi? Lantas apa yang harus dilakukan oleh para orang tua, kalangan pendidik dan masyarakat pada umumnya?

*Faktor pencetus*

Ada banyak teori tentang bunuh diri. Salah satunya yang kerap menjadi acuan adalah yang diajukan oleh Durkheim, sang sosiolog Prancis. Durkheim (Suicide, 1897) mengelompokkan fenomena bunuh diri menjadi tiga kelompok, yaitu 1) egoistik, 2) altruistik, 3) anomik. *Egoistic suicide* menurut Durkheim terjadi bila individu tidak mampu berintegrasi dengan masyarakat.

Kondisi ini terjadi karena masyarakat memosisikan individu yang bersangkutan seolah-olah tidak berkepribadian.

*Altruistic suicide*

terjadi karena adanya ikatan dan tuntutan yang kuat terhadap individu dari masyarakat sekitar (tradisi/budaya setempat), misal harakiri di Jepang.

*Anomic suicide*

terjadi karena gangguan keseimbangan integrasi antara individu dan masyarakat sehingga individu mengalami krisis identitas, misal kebangkrutan, kehilangan kekuasaan. Teori lain tentang bunuh diri adalah bunuh diri absurditas, bunuh diri eksistensialis,  bunuh diri karena patologis, bunuh diri romantis, dan bunuh diri heroik.

Namun, apa pun teori yang dipakai, para pakar psikologi dan sosiologi tetap  merasa tidak mudah untuk menguak misteri bunuh diri.

Banyak hal yang terkadang tidak dapat dijelaskan dengan konsep teori  semacam itu. Apalagi, jika hal tersebut dikaitkan dengan budaya daerah  tertentu, harakiri di Jepang atau pulung gantung di Gunung Kidul Yogyakarta, atau  juga jika dikaitkan dengan ritual agama, seperti fenomena bunuh diri massal.

Secara psikologis, dipahami bahwa perilaku bunuh diri sebenarnya adalah sebuah kepanikan atau letupan sesaat, sebuah dorongan yang muncul  tiba-tiba. Jarak antara situasi tertekan yang dialami dan peristiwa bunuh diri yang dilakukan dapat berlangsung sekejap, dalam hitungan menit, jam.

Merujuk pada beberapa contoh kasus bunuh diri sebagaimana yang dipaparkan di atas, tampaknya peristiwa bunuh diri pada anak dan remaja sering  berhubungan dengan stresor yang terjadi sesaat. Misalnya, kepanikan karena tidak dapat membayar iuran, rasa malu yang berlebihan.

Ide untuk bunuh diri dapat muncul tiba-tiba (impulsif) tanpa banyak dipikirkan terlebih dahulu. Bagi remaja dan pelajar, situasi ini tambah rumit mengingat masa mereka adalah masa-masa yang penuh gejolak.

Tatkala ditambah lagi dengan persoalan yang menurut mereka sulit dipecahkan, mereka mengalami kebuntuan, tidak ada orang yang dianggap peduli, maka bunuh diri
terkadang menjadi jalan akhir yang ditempuh.

*Mengajar kelenturan pada anak*

Bunuh diri pada remaja menjadi sebuah indikasi adanya ketidakmampuan anak dan remaja dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi. Selain itu, fenomena tersebut juga menunjukkan kurangnya mekanisme *koping* yang dimiliki  remaja dalam mengatasi stres.

Lebih jauh lagi, fenomena bunuh diri remaja dan kalangan pelajar ini secara tidak langsung menjadi bukti dari kegagalan para orang tua, pendidik, dan masyarakat sekitar untuk membekali anaknya dengan keterampilan hidup.  Harus diakui saat ini proses pendidikan kita masih kerap terjebak mengajarkan
anak untuk memiliki kemampuan kognisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan lain.

Pada ujung-ujungnya, kondisi tersebut menyebabkan proses pendidikan  yang berlangsung saat ini lebih berorientasi pada sisi bagaimana menjadikan  anak pintar secara kognitif yang terkadang mengabaikan aspek lainnya. Proses pendidikan saat ini lebih mengutamakan sisi kognitif, bukan untuk mengajarkan bagaimana anak mengenal dirinya, potensinya, atau dalam konteks Jawa diistilahkan dengan ‘*roso*’.

Mengenal dirinya menjadikan anak akan dapat memahami siapa dirinya (*self*), potensi yang dimilikinya, mengenal dekat Tuhannya. Kesadaran itu, pada akhirnya akan menjadi pengingat bagi si anak pada posisi mana dan  dengan siapa dia berhadapan.

Lebih dari itu, hadirnya kesadaran ini diharapkan dapat menjadikan anak mampu beradaptasi dengan lingkungannya, kondisi diri dan keluarga,  serta mampu menerima segala kondisi yang hadir di hadapannya. Sementara itu,  bagi pelaku bunuh diri kemampuan mengadaptasinya tidak ada sehingga begitu mengalami kebuntuan dalam masalah yang dihadapi, seketika yang  terlintas adalah melepaskan diri dari masalah tersebut, bukan menyelesaikannya.

Sejak kecil setiap individu pasti mengalami satu masalah, dari yang  sifatnya sederhana hingga yang kompleks. Pada situasi semacam inilah dibutuhkan kemampuan untuk melakukan adaptasi terhadap situasi. Kebiasaan untuk selalu meluluskan keinginan anak bukanlah perilaku mendidik yang baik. Tidak
semua kebutuhan anak dapat dipenuhi orang tuanya.

Menyadari bahwa banyak keterbatasan individu, maka sudah seharusnyalah sejak dini diterapkan pendidikan yang mengajarkan anak untuk menerima realitas. Pendidikan yang mengajarkan kelenturan hati dan pikiran, serta sikap sehingga anak mampu untuk beradaptasi dengan lingkungannya.

Kemampuan beradaptasi ini setidaknya menjadi sebuah syarat keberhasilan anak dalam kehidupannya. Dengan demikian, dunia bagi anak bukanlah sekadar warna hitam dan putih, tetapi penuh warna. Selalu ada hikmah di balik  peristiwa, *fa inna ma’al usri usro, inna ma’al usri yusro*, setelah kesusahan pasti  ada sebuah kenikmatan/kebahagian.

Sumber: http://kapasmerah.wordpress.com/2008/03/28/fenomena-bunuh-diri-pelajar/

Posted May 20, 2012 by klinikpsikis in motivasi

Gay Wanita Lebih Berisiko Bunuh Diri..!   Leave a comment

Menurut penelitian yang dilakukan Dr. Lisa L. Lindey dan rekan-rekannya dari Western Kentucky University di Bowling Green, mahasiwa wanita yang menyukai sesama jenis cenderung berisiko terjerumus pada gaya hidup membahayakan daripada kelompok pria homoseks.

Gaya hidup membahayakan tersebut misalnya: mengonsumsi narkotika, bunuh diri dan lainnya. Penelitian terhadap 927 lesbian dan pria homoseks di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa kelompok lesbian rata-rata lebih banyak mengalami masalah dengan pasangan masing-masing daripada kelompok pria homoseks

Karenanya, Dr. Lisa menyarankan para pekerja sosial yang membantu kedua kelompok ini agar lebih memperhatikan para wanita lesbian. Selain kecenderungan berbahaya tersebut, dalam penelitian ini juga ditemukan beberapa perbedaan antara responden pria homoseks dan lesbian. Salah satu perbedaan itu adalah adanya orientasi dalam diri kelompok lesbian untuk mulai berhubungan seks saat usianya sudah agak lanjut, ketimbang kelompok pria homoseks.

Selain itu, kelompok lesbian cenderung kurang menyukai penggunaan kondom atau alat perlindungan lain dalam berhubungan seksual, entah itu secara vaginal atau seks anal. Kenyataan lain, menunjukkan bahwa para wanita lesbian tidak hanya tertarik pada sesama jenis, tetapi juga lawan jenis, yakni para pria. Hal ini tidak terjadi pada kelompok pria homoseks.

Hasil penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan “American Public Health Association” yang ke 130 di Philadelphia ini menyatakan bahwa kelompok lesbian kebanyakan adalah perokok, pengguna marijuana, obat-obatan terlarang, dan alat-alat yang membahayakan kesehatan lainnya, misalnya tato.

Penjelasan ini berbeda dengan penjelasan yang dikemukakan oleh Dr. Lindley tahun lalu kepada Reuter. Dalam penjelasan sebelumnya, justru ditemukan bahwa kelompok pria homoseks lebih banyak yang menggunakan marijuana daripada kelompok lesbian.

Lidley dan tim-nya menemukan bahwa 10% kelompok lesbian mencoba melakukan bunuh diri sepanjang tahun lalu. Pada kelompok pria homoseks hanya 4% yang mencoba tindakan itu

disadur dari : http://sains.blogspot.com/

Sumber: http://gayvision.blog.com/2010/01/30/gay-wanita-lebih-berisiko-bunuh-diri/

Posted May 20, 2012 by klinikpsikis in motivasi

Keinginan bunuh diri adalah umum pada Odha   Leave a comment

.Oleh: aidsmeds.com

Hampir sepertiga orang dengan HIV dari lima klinik di London, Inggris melaporkan memikirkan untuk bunuh diri baru-baru ini. Hal ini berdasarkan sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal AIDS edisi 20 Agustus 2008.

Beberapa penelitian menemukan bahwa tingkat depresi dan kecemasan adalah lebih tinggi pada orang yang hidup dengan HIV dibandingkan rekannya yang HIV-negatif. Untuk menentukan frekuensi pasien HIV-positif mengalami keinginan dan bayangan rencana bunuh diri (ideation), Lorraine Sherr, PhD, dari Royal Free and College Medical School di London, Inggris dan rekan mendaftarkan 778 pasien HIV-positif dari lima klinik di London. Kurang lebih separuh pasiennya tidak lahir di Inggris, 67% berkulit putih dan 65% adalah laki-laki gay.

Sherr dan rekan meminta para relawan penelitian untuk mengisi angket yang luas tentang kesehatan mereka secara fisik dan psikologis. Tiga puluh satu persen relawan melaporkan keinginan bunuh diri selama tujuh hari terakhir. Di antara mereka, kurang lebih 5% mengatakan bahwa keinginan bunuh diri tersebut tetap ada, dan 11% mengatakan sering mengalaminya. Laki-laki heteroseks hampir 50% lebih mungkin melaporkan keinginan bunuh diri dibandingkan perempuan heteroseksatau laki-laki gay. Relawan yang tidak lahir di Inggris cenderung melaporkan frekuensi keinginan bunuh diri yang lebih tinggi.

Para peneliti mengatakan bahwa hasil penelitian mereka “mengkhawatirkan,” dan walaupun mereka mengakui bahwa sampel dari klinik tersebut mungkin tidak dapat mewakili populasi orang dengan HIV secara umum, mereka berpendapat bahwa pencegahan bunuh diri harus dimasukkan dalam perawatan rutin.

Ringkasan: Suicidal Thoughts Common in People With HIV

Sumber: AIDS. 22(13):1651-1658

Sumber: http://spiritia.or.id/news/bacanews.php?nwno=1006

Posted May 20, 2012 by klinikpsikis in motivasi